Search This Blog

Memuat...

Minggu, 06 November 2011

Mengenal arti qurban

Qurban
Qurban atau Kurban (bahasa Arab ﻦﺑﺮﻗ), atau
disebut juga Udhhiyah atau Dhahiyyah secara
harfiah berarti hewan sembelihan. Sedangkan ritual
Qurban adalah salah satu ritual ibadah pemeluk
agama Islam, dimana dilakukan penyembelihan
binatang ternak untuk dipersembahkan kepada
Allah. Ritual kurban dilakukan pada bulan Dzulhijjah
pada penanggalan Islam, yakni pada tanggal 10
(hari nahar) dan 11,12 dan 13 (hari tasyrik)
bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha.
Latar belakang historis
Dalam sejarah sebagaimana yang disampaikan
dalam Al Qur'an terdapat dua peristiwa
dilakukannya ritual Qurban yakni oleh Habil (Abel)
dan Qabil (Cain), putra Nabi Adam alaihis salam,
serta pada saat Nabi Ibrahim akan mengorbankan
Nabi Ismail atas perintah Allah.
Habil dan Qabil
Pada surat Al Maaidah ayat 27 disebutkan:
Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera
Adam (Habil dan Qabil) menurut yang
sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan
kurban, maka diterima dari salah seorang dari
mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang
lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): "Aku pasti
membunuhmu!". Berkata Habil: "Sesungguhnya
Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang
yang bertakwa".
Ibrahim dan Ismail
Disebutkan dalam Al Qur'an, Allah memberi
perintah melalui mimpi kepada Nabi Ibrahim untuk
mempersembahkan Ismail. Diceritakan dalam Al
Qur'an bahwa Ibrahim dan Ismail mematuhi
perintah tersebut dan tepat saat Ismail akan
disembelih, Allah menggantinya dengan domba.
Berikut petikan surat Ash Shaaffaat ayat 102-107
yang menceritakan hal tersebut.
102. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur
sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim,
Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku
melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.
Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab:
"Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan
kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku
termasuk orang-orang yang sabar".
103. Tatkala keduanya telah berserah diri dan
Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya),
(nyatalah kesabaran keduanya ).
104. Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim,
105. sesungguhnya kamu telah membenarkan
mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami
memberi balasan kepada orang-orang yang
berbuat baik.
106. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian
yang nyata.
107. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor
sembelihan yang besar
Dalil tentang berkurban
Ayat dalam Al Qur'an tentang ritual kurban antara
lain :
surat Al Kautsar ayat 2: Maka dirikanlah shalat
karena Tuhanmu; dan berkurbanlah (anhar)
Sementara hadits yang berkaitan dengan kurban
antara lain:
“Siapa yang mendapati dirinya dalam keadaan
lapang, lalu ia tidak berqurban, maka janganlah ia
mendekati tempat shalat Ied kami.” HR. Ahmad
dan ibn Majah.
Hadits Zaid ibn Arqam, ia berkata atau mereka
berkata: “Wahai Rasulullah SAW, apakah qurban
itu?” Rasulullah menjawab: “Qurban adalah
sunnahnya bapak kalian, Nabi Ibrahim.” Mereka
menjawab: “Apa keutamaan yang kami akan
peroleh dengan qurban itu?” Rasulullah
menjawab: “Setiap satu helai rambutnya adalah
satu kebaikan.” Mereka menjawab: “Kalau bulu-
bulunya?” Rasulullah menjawab: “Setiap satu
helai bulunya juga satu kebaikan.” HR. Ahmad
dan ibn Majah
“Jika masuk tanggal 10 Dzul Hijjah dan ada salah
seorang diantara kalian yang ingin berqurban,
maka hendaklah ia tidak cukur atau memotong
kukunya.” HR. Muslim
“Kami berqurban bersama Nabi SAW di
Hudaibiyah, satu unta untuk tujuh orang, satu
sapi untuk tujuh orang. “ HR. Muslim, Abu Daud,
Tirmidzi.
Hukum kurban
Mayoritas ulama dari kalangan sahabat, tabi’in,
tabiut tabi’in, dan fuqaha (ahli fiqh) menyatakan
bahwa hukum qurban adalah sunnah muakkadah
(utama), dan tidak ada seorangpun yang
menyatakan wajib, kecuali Abu Hanifah (tabi’in).
Ibnu Hazm menyatakan: “Tidak ada seorang
sahabat Nabi pun yang menyatakan bahwa qurban
itu wajib.
Syarat dan pembagian daging kurban
Syarat dan ketentuan pembagian daging kurban
adalah sebagai berikut :
Orang yang berkurban harus mampu
menyediakan hewan sembelihan dengan cara
halal tanpa berutang.
Kurban harus binatang ternak, seperti unta, sapi,
kambing, atau biri-biri.
Binatang yang akan disembelih tidak memiliki
cacat, tidak buta, tidak pincang, tidak sakit, dan
kuping serta ekor harus utuh.
Hewan kurban telah cukup umur, yaitu unta
berumur 5 tahun atau lebih, sapi atau kerbau
telah berumur 2 tahun, dan domba atau kambing
berumur lebih dari 1 tahun.
Orang yang melakukan kurban hendaklah yang
merdeka (bukan budak), baligh, dan berakal.
Daging hewan kurban dibagi tiga, 1/3 untuk
dimakan oleh yang berkurban, 1/3
disedekahkan, dan 1/3 bagian dihadiahkan
kepada orang lain.
Waktu berkurban
Awal waktu
Waktu untuk menyembelih kurban (qurban) bisa di
'awal waktu' yaitu setelah shalat Ied langsung dan
tidak menunggu hingga selesai khutbah. Bila di
sebuah tempat tidak terdapat pelaksanaan shalat
Ied, maka waktunya diperkirakan dengan ukuran
shalat Ied. Dan barangsiapa yang menyembelih
sebelum waktunya maka tidak sah dan wajib
menggantinya .
Dalilnya adalah hadits-hadits berikut: a. Hadits Al-
Bara` bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ْﻦَﻣ ﻰَّﻠَﺻ ﺎَﻨَﺗَﻼَﺻ َﻚَﺴَﻧَﻭ ﺎَﻨَﻜُﺴُﻧ ْﺪَﻘَﻓ َﺏﺎَﺻَﺃ
َﻚُﺴُّﻨﻟﺍ ْﻦَﻣَﻭ َﺢَﺑَﺫ َﻞْﺒَﻗ ْﻥَﺃ َﻲِّﻠَﺼُﻳ ْﺪِﻌُﻴْﻠَﻓ
ﺎَﻬَﻧﺎَﻜَﻣ ﻯَﺮْﺧُﺃ “Barangsiapa yang shalat
seperti shalat kami dan menyembelih hewan qurban
seperti kami, maka telah benar qurbannya. Dan
barangsiapa yang menyembelih sebelum shalat
maka hendaklah dia menggantinya dengan yang
lain.” (HR. Al-Bukhari no. 5563 dan Muslim no.
1553) Hadits senada juga datang dari sahabat
Jundub bin Abdillah Al-Bajali radhiyallahu ‘anhu
riwayat Al-Bukhari (no. 5500) dan Muslim (no.
1552).
b. Hadits Al-Bara` riwayat Al-Bukhari (no. 5556)
dan yang lainnya tentang kisah Abu Burdah
radhiyallahu ‘anhu yang menyembelih sebelum
shalat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda: ُﺓﺎَﺷ َﻚُﺗﺎَﺷ ٍﻢْﺤَﻟ “Kambingmu adalah
kambing untuk (diambil) dagingnya saja.” Dalam
lafadz lain (no. 5560) disebutkan: ْﻦَﻣَﻭ َﺮَﺤَﻧ
ﺎَﻤَّﻧِﺈَﻓ َﻮُﻫ ٌﻢْﺤَﻟ ُﻪُﻣِّﺪَﻘُﻳ ِﻪِﻠْﻫَﺄِﻟ َﺲْﻴَﻟ َﻦِﻣ
ِﻚُﺴُّﻨﻟﺍ ٌﺀْﻲَﺷ “Barangsiapa yang menyembelih
(sebelum shalat), maka itu hanyalah daging yang
dia persembahkan untuk keluarganya, bukan
termasuk hewan qurban sedikitpun.
Akhir waktu
Waktu penyembelihan hewan qurban adalah 4 hari,
hari Iedul Adha dan tiga hari sesudahnya. Waktu
penyembelihannya berakhir dengan tenggelamnya
matahari di hari keempat yaitu tanggal 13 Dzulhijjah.
Ini adalah pendapat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu
‘anhu, Al-Hasan Al-Bashri imam penduduk
Bashrah, ‘Atha` bin Abi Rabah imam penduduk
Makkah, Al-Auza’i imam penduduk Syam, Asy-Syafi’i
imam fuqaha ahli hadits rahimahumullah. Pendapat
ini dipilih oleh Ibnul Mundzir, Ibnul Qayyim dalam
Zadul Ma’ad (2/319), Ibnu Taimiyah, Al-Lajnah Ad-
Da`imah (11/406, no. fatwa 8790), dan Ibnu
‘Utsaimin dalam Asy-Syarhul Mumti’ (3/411-412).
Alasannya disebutkan oleh Ibnul Qayyim
rahimahullahu sebagai berikut: 1. Hari-hari tersebut
adalah hari-hari Mina. 2. Hari-hari tersebut adalah
hari-hari tasyriq. 3. Hari-hari tersebut adalah hari-
hari melempar jumrah. 4. Hari-hari tersebut adalah
hari-hari yang diharamkan puasa padanya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ُﻡﺎَّﻳَﺃ ِﻖْﻳِﺮْﺸَّﺘﻟﺍ ُﻡﺎَّﻳَﺃ ٍﻞْﻛَﺃ ٍﺏْﺮُﺷَﻭ ٍﺮْﻛِﺫَﻭ
ِﻪﻠِﻟ ﻰَﻟﺎَﻌَﺗ “Hari-hari tasyriq adalah hari-hari
makan, minum, dan dzikir kepada Allah Subhanahu
wa Ta'ala.” Adapun hadits Abu Umamah bin Sahl
bin Hunaif radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: َﻥﺎَﻛ
َﻥْﻮُﻤِﻠْﺴُﻤْﻟﺍ ﻱِﺮْﺸَﻳ ُﻢُﻫُﺪَﺣَﺃ َﺔَّﻴِﺤْﺿُﻷْﺍ
ﺎَﻬُﻨِّﻤَﺴُﻴَﻓ َﺪْﻌَﺑ ﺎَﻬُﺤَﺑْﺬَﻴَﻓ ﻱِﺫ َﺮِﺧﺁ ﻰَﺤْﺿﻷْﺍ
ِﺔَّﺠِﺤْﻟﺍ “Dahulu kaum muslimin, salah seorang
mereka membeli hewan qurban lalu dia gemukkan
kemudian dia sembelih setelah Iedul Adha di akhir
bulan Dzulhijjah.” (HR. Al-Baihaqi, 9/298) Al-Imam
Ahmad rahimahullahu mengingkari hadits ini dan
berkata: “Hadits ini aneh.” Demikian yang dinukil
oleh Ibnu Qudamah dalam Syarhul Kabir (5/193).
Wallahu a’lam.
Menyembelih di waktu siang atau malam?
Tidak ada khilafiah di kalangan ulama tentang
kebolehan menyembelih qurban di waktu pagi,
siang, atau sore, berdasarkan firman Allah
Subhanahu wa Ta'ala: ﺍﻭُﺮُﻛْﺬَﻳَﻭ َﻢْﺳﺍ ِﻪﻠﻟﺍ
ﻲِﻓ ٍﻡﺎَّﻳَﺃ ٍﺕﺎَﻣْﻮُﻠْﻌَﻣ “Dan supaya mereka
menyebut nama Allah pada hari yang telah
ditentukan.” (Al-Hajj: 28)
Mereka hanya berbeda pendapat tentang
menyembelih qurban di malam hari. Yang rajih
adalah diperbolehkan, karena tidak ada dalil khusus
yang melarangnya. Ini adalah tarjih Ibnu ‘Utsaimin
rahimahullahu dalam Asy-Syarhul Mumti’ (3/413)
dan fatwa Al-Lajnah Ad-Da`imah (11/395, no.
fatwa 9525). Yang dimakruhkan adalah tindakan-
tindakan yang mengurangi sisi keafdhalannya,
seperti kurang terkoordinir pembagian dagingnya,
dagingnya kurang segar, atau tidak dibagikan sama
sekali. Adapun penyembelihannya tidak mengapa.
Adapun ayat di atas (yang hanya menyebut hari-hari
dan tidak menyebutkan malam), tidaklah
menunjukkan persyaratan, namun hanya
menunjukkan keafdhalan saja. Adapun hadits yang
diriwayatkan Ath-Thabarani dalam Al-Kabir dari Ibnu
‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma dengan lafadz: ﻰَﻬَﻧ
ِﺢْﺑَﺬﻟﺍ ِﻦَﻋ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ُّﻲِﺒَّﻨﻟﺍ
ِﻞْﻴَّﻠﻟﺎِﺑ “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
melarang menyembelih di malam hari.” Al-Haitsami
rahimahullahu dalam Al-Majma’ (4/23)
menyatakan: “Pada sanadnya ada Salman bin Abi
Salamah Al-Janabizi, dia matruk.” Sehingga hadits
ini dha’if jiddan (lemah sekali). Wallahu a’lam. (lihat
Asy-Syarhul Kabir, 5/194)

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

0 komentar:

Poskan Komentar